Generasi Millineal

EKSISTENSI 6 GENERASI DI ERA PANDEMI

Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir, setidaknya ada 6 kelompok generasi manusia berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall. Dan masing masing generasi memiliki perbedaan kondisi kesehatan dalam menghadapi krisis COVID-19. Yang manakah Anda? 
 
Generasi Tradisionalis lahir antara tahun (1922 - 1945) atau saat ini  (2020) generasi ini berusia 98 - 75 tahun. Sebagian besar dari mereka menjadi saksi The Great Depression, akibat krisis global akibat Perang Dunia Ke II. Mereka juga menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia, peristiwa G30 S PKI, krisis 98, berbagai bencana besar di Indonesia hingga pandemi Covid-19. Sebagian besar dari mereka telah lansia dan sangat beresiko tertular Covid-19, untuk itu generasi ini wajib membatasi diri keluar rumah. Asupan gizi yang cukup, stres yang rendah serta pendampingan dari keluarga dekat sangat dibutuhkan oleh generasi ini. Mungkin mereka adalah Buyut atau Kakek bagi kaum millenial kebawah.
 
Generasi Baby Boomers (1946 - 1964) atau saat ini berusia 74 - 56 tahun. Generasi ini disebut baby boomers Karena ledakan populasi yang disebabkan oleh berakhirnya krisis dunia dan masih rendahnya sosialisasi penggunaan KB. Disamping itu salah satu motto yang diyakini secara umum oleh generasi ini adalah, "Banyak Anak, Banyak Rejeki". Pemikiran generasi ini masih sangat terpengaruh oleh pemikiran generasi sebelumnya. Mereka menjadi saksi evolusi alat komunikasi dari kentongan hingga smarth phone yang kita kenal saat ini. Dari mesin ketik manual hingga layar touchscreen yang canggih. Generasi ini juga rentan terhadap penularan virus Covid-19. Dibutuhkan aktivitas fisik yang cukup, asupan nutrisi dan pengelolaan stres yang baik untuk menjaga kesehatan secara optimal. Saya bisiki Anda, generasi ini sangat suka berbicara dan didengarkan. Mereka akan mengisahkan berbagai cerita itu itu saja secara berulang-ulang tanpa mereka sadari. 
 
Generasi X (1965 - 1980) atau saat ini berusia 55 - 40 tahun. Generasi X dibesarkan dalam situasi serta event politis yang cukup panas dan bergejolak di era pemerintahan Orde Baru. Secara internasional, mereka juga menyaksikan cukup banyak konflik atau kejadian politik global seperti Perang Vietnam, jatuhnya Tembok Berlin, serta berakhirnya Perang Dingin. Genarasi X hingga tradisional adalah generasi yang relatif mudah "dikondisikan" oleh kekuatan politis atau figur otoritas yang memiliki daya pengaruh kuat seperti pendeta, rohaniawan. Generasi ini relatif tahan terhadap penularan virus Covid-19 dengan CATATAN tidak menderita penyakit komorbid seperti hipertensi, diabetes militus, kelebihan berat badan, TBC dan penyakit yang berhubungan dengan metabolisme lainnya. 
 
Generasi Millenial (1981 - 1994) atau saat ini berusia 39-26 tahun. Work life balance, itulah motto sebagian besar generasi milenial. Tidak melulu mengejar harta, tapi milenial lebih mengejar solidaritas, kebahagiaan bersama, dan eksistensi diri agar dihargai secara sosial. Selain mengalami transisi dari segala hal yang bersifat analog ke digital, milenial atau generasi Y juga ini tumbuh seiring dengan semakin matangnya nilai-nilai persamaan dan hak asasi manusia, sehingga mempengaruhi pembawaan mereka yang bisa dinilai lebih demokratis. Meski hidupnya tampak selalu bersenang-senang, justru ini generasi yang digadang-gadang tengah memberi banyak pengaruh baik untuk masa depan bangsa. Generasi Milineal mendominasi jumlah penduduk Indonesia yakni antara 64-74% dari total penduduk, sehingga oleh beberapa pakar Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografiPara milenial lebih jeli dalam melihat suatu peluang, dan berada pada usia emas sebagai tulang punggung perekonomian keluarga dan bangsa. Generasi millenial bolah dikatakan secara usia sangat aman untuk melakukan aktivitas, dimana secara fisiologi dan psikis tubuh dalam kondisi prima menjalankan aktivitas di tengan pandemi, tentu dengan mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan. 

Generasi Z (1995 - 2010) atau saat ini berusia 25-10 tahun . Teknologi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari gaya hidup generasi ini, bahkan socialmediaweek.org, 44 persen dari Gen Z memeriksa media sosial setidaknya setiap jam sekali. Teknologi bagi mereka dapat melakukan apa saja termasuk belajar dan bekerja, bukan sekadar bersenang-senang. Maka tak sedikit dari Gen Z yang kini menjadikan media sosial sebagai lahan mereka untuk mencari penghasilan. Seperti membuka online shop atau menjadi influencer muda. Sama dengan generasi Y, mereka memiliki kesehatan yang prima untuk melakukan aktivitas namun tingkat kedisiplinan yang relatif rendah untuk menerapkan protokol kesehatan. 
 
Generasi Alpha  2010 ke bawah. Sekitar 2,5 juta generasi alpha lahir setiap minggu. Fakta ini membuat prediksi jumlahnya akan sangat membengkak dengan jumlah sekitar 2 miliar pada 2025. Seperti dua generasi sebelumnya, mereka yang lahir setelah tahun 2010 sudah familiar dengan teknologi bahkan sejak usia yang sangat belia. Generasi alpha lebih tertarik bermain gadget dibandingkan permainan tradisional anak di era sebelumnya. Watak mereka dalam bekerja dan bagaimana kecenderungannya menghabiskan uang, sementara belum dapat diprediksi. Mengingat untuk saat ini, umur paling tua dari generasi alpha adalah sepuluh tahun saat ini (2020). Mereka termasuk usia rentan tertular mengingat sistem organ masih dalam masa tumbuh dan berkembang dan tentu saja kesadaran melakukan pola hidup sehat masih belum terkristalisasi kuat dalam diri mereka.