filosofi hujan

FILOSOFI HUJAN Tatanan Hidup Baru Sesuai Kehendak Alam

Kemarin malam saya bertamu ke rumah seorang Guru, Sahabat dan juga seorang yang sangat saya kagumi. Delapan tahun lalu kami berkenalan, sebagai seorang pasien dan dokter. Kemudian hubungan itu berlanjut hingga kemudian kami melakukan hal-hal yang luar biasa di bidang sosial dan politik. 

Nah kebetulan kami sudah lama tidak ngobrol. Sekitar jam 7 malam sesuai dengan arahan Beliau kemarin malam, saya pun melangkahkan kaki ke sebuah alamat yang selama ini ditempati oleh orang-orang terpilih, dijaga ketat namun penuh dengan keasrian dan keramahan. 

Baru saja duduk di kursi tamu, hujan turun lebat sekali, sehingga semerbak aroma tanah, angrek, lemon grass berkejaran memasuki ruang tamu. Sesaat kami diam dan menikmati "tamu tidak diundang" ini. Jaras syaraf penciuman yang tertangkap melalui hidung, mengantarkan kami kepada suatu kejadian di masa lalu. Di mana kami kehujanan dalam perjalanan menjangkau kantong-kantong masyarakat yang jauh dari sentuhan pemerintah saat itu.

Hujan pula yang membuka pembicaraan ini kepada suatu topik yang kemudian terkait dengan gaya hidup baru atau new normal, setelah pandemi covid. Kemudian secara bernas dan mengalir Beliau mengisahkan bagaimana hujan ini sampai ke bumi.

"Dari laut yang terpapar panasnya matahari, kemudian air menguap ke langit. Langit pun menangkap uap itu dan mengikatnya dengan kasih, hingga pada saatnya ditumpahkan kembali air itu dari langit ke bumi. Dok..., kita tidak tahu bagaimana masa depan, kita ikuti saja kehendak alam. Jika kita ini adalah air, mungkin saat ini kita sedang diangkat KEATAS dalam wujud uap"

Kemudian saya sergah ucapan Beliau,"Maksud Bapak kita letting go..? Dan mengikuti saja kehendak alam?

"Betul sekali, saya berfikir tatanan New Normal nanti ini akan mengantarkan kita kepada suatu kondisi dimana kita akan hidup berdampingan, selaras dan harmoni baik itu dengan alam beserta virus covid didalamnya, dengan manusia dengan berbagai karakter dan kondisi dan tentu dengan sebuah keyakinan baru bahwa kita semua berada di bawah atap langit dan alas yang bernama bhumi"

Kami berbincang hampir dua jam lamanya, Beliau mengatakan akan banyak kejutan dan kesempatan di masa depan. Tidak lupa Beliau memberikan semangat dan penguatan untuk berani mengambil kesempatan berbuat untuk sesama di tingkat yang lebih luas. Saya pamit tepat jam sembilan malam, sesaat setelah hujan lebat usai melepas rindu dengan bumi. 

Jika kita memposisikan diri sebagai air, maka jika direnungkan, kita pun harus iklas dan percaya bahwa suatu saat nanti kita sampai pula ke lautan. Dari laut mungkin kita terombang ambing gelombang, kita pun harus yakin dan berserah suatu saat akan diangkat menjadi uap ke langit. Dan jika pada saatnya nanti, kita akan kembali ke daratan sebagai air hujan*