Layang-layang

Layangan From Wholeness To Wellness

Layangan merupakan salah satu mainan yang tidak saja digemari oleh anak-anak, namun juga orang dewasa. Dalam konteks shastra LAYANGAN sering dijadikan metafora dalam membuka suatu diskusi KEROHANIAN. Apa yang menarik dari sebuah LAYANGAN?

Saat membayangkan bermain layangan, umumnya pikiran seseorang terbawa akan gelak tawa riang anak-anak yang sedang berlari-lari sambil menarik sebuah benang yang menjadi kendali dari layangan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan perasaan nyaman menyertai gambar mental, akan keberadaan seseorang sedang bermain layang-layang.

Layangan sendiri diibaratkan sebagai PIKIRAN di dalam diri manusia. Sedangkan Sang Pemain layangan adalah tuan dari PIKIRAN itu sendiri. Antara Sang Pemain (baca; Tubuh) dengan LAYANGAN (baca; pikiran) terdapat tali penghubung yang merujuk kepada NAFAS. Dalam diskusi dengan soerang Yogi tentang meditasi, Beliau menjelaskan bahwa NAFAS menjadi PENGHUBUNG sekaligus PENGENDALI antara TUBUH dan PIKIRAN.

Coba ingat saat perasaan marah muncul, apa yang biasanya terjadi dengan tubuh Anda? Benar sekali! Nafas cepat dan tidak teratur, pikiran TEROMBANG-AMBING tidak jelas arahnya, dan TUBUH mengikuti mulai dari ekspresi paling halus hingga paling kasar. Ekspresi terhalus, umumnya terlihat dari kulit wajah yang merah merona, tangan dan kaki mulai dingin, gemetar, mengepal, jalan tidak tentu arah, perkataan menjadi tidak terkontrol, hingga ekspresi terkasar adalah MENGAMUK bagai BANTENG yang kalap melihat warna merah. Menyerudug kesana-kemari, tidak tentu arah. 

Mengutip seorang kawan yang menulis pada story board pribadinya di media sosial, "Bagai Layang-layang yang Talinya Terputus". Ungkapan ini, kurang lebih menggambarkan keadaan diri seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang BERHARGA di dalam hidupnya. Apa sesuatu yang BERHARGA atau BERNILAI tersebut? Bisa saja pasangan hidup, perasaan cinta, pekerjaan, harapan, sebuah kesempatan dan lain sebagainya. Intinya terputusnya LAYANGAN dengan Sang Tuan berdampak TIDAK BAIK atau SENGKALA. 

Sehingga untuk menjaga layangan agar tetap mengudara dengan stabil, dibutuhkan tali kendali yang kuat, ringan dan tahan lama. Untuk itu latihan pernafasan sangat dianjurkan dilatih disela-sela kesibukan. Latihan nafas tidak harus meluangkan waktu khusus. Anda dapat memanfaatkan waktu saat jalan kaki dari satu titik ke titik tujuan. Tariklah nafas panjang sebanyak dua langkah kaki, kemudian perlahan keluarkan nafas melalui mulut secara perlahan sebanyak 8 langkah kaki. Sehingga dalam 10 langkah Anda telah menyelesaikan satu siklus latihan PERNAFASAN DASAR. 

Anda juga dapat berlatih pernafasan tatkala Anda sedang duduk atau menunggu sesuatu, misalkan mengantri di tailor Bank, kasir supermarket, atau saat berdiam diri di rumah saja. Tarik nafas sealami mungkin, kemudian keluarkan juga sealami mungkin melalui hidung, namun izinkan pikiran MENGIKUTI nafas yang masuk itu bagai seorang tamu kehormatan, dan saat nafas keluar, izinkan pula pikiran mengiringi bagai mengantar tamu pulang kembali. Lakukan minimal 10-15 menit sebagai awal. 

Dengan melatih nafas, Anda telah menguatkan komunikasi antara TUBUH dengan PIKIRAN. Memahami bahwa TUBUH dan PIKIRAN dalam satu kesatuan yang utuh - WHOLENESS menjadi fondasi yang kuat dalam mengalami KESEHATAN OPTIMAL di berbagai aspek kehidupan kita- WELLNESS. 

Sebagai manusia UTUH-WHOLENESS setidaknya kita melatih tiga hal yang mendasar, yakni TUBUH dengan OLAH RAGA, PIKIRAN dengan RELAKSASI atau MEDITASI KESEHATAN dan NAFAS dengan menjaga kesehatan saluran nafas serta OLAHRASA (menyambut nafas masuk dan mengantar nafas keluar) diantara nafas masuk dan nafas keluar itulah para master YOGI dan tetua Nusantara melakukan OLAH RASA.

Tubuh, nafas, dan pikiran merupakan tiga aspek yang sejatinya manunggal di dalam diri manusia. Sehingga berlaku suatu tesis, jika salah satunya terganggu, maka yang lain akan ikut terganggu. Jika dilihat dari bobot dari ringan-berat, maka urutannya sebagai berikut; Layangan (Pikiran)- Tali (Nafas)- Pemain (Tubuh). Yang mana lebih mengendalikan? Ah nanti saja kita lanjutkan kembali. Biasanya diskusi ini dituturkan di hari pertama pelatihan Meditasi Kesehatan Sidhakarya. Semoga saja Alam memperkenankan kita bertemu dalam SATU BILIK ruang dan waktu.

Semoga senantiasa bermanfaat dan Cahaya Kebaikan menyelimuti hidup dan kehidupan kita semua.* (buda umanis, uku tambir)