The Big Question Beyond I Gusti Ngurah Patjung

The Big Question Beyond I Gusti Ngurah Patjung

THE BIG QUESTION BEYOND I GUSTI NGURAH PATJUNG

Perjalanan menyatukan keluarga dalam sebuah wadah legal formal akhirnya terwujud setelah usaha yang dilakukan secara sitematis, terstruktur dan masif selama 6 bulan dari 15 Februari 2015 hingga kemudian puncaknya pada Mahasabha I Paiketan Pasemetonan Trah Shri Arya Sentong, pada tanggal 17 Agustus 2015, di Taman Makam Pahlawan Margarana, Marga, Tabanan. Setelah terbentuk, sebagai pendiri sekaligus pengemban amanah Ketua Umum pada Mahasabha I, banyak pertanyaan yang sekiranya masih di wilayah abu-abu dan jika ditanyakan akan mendapat berbagai versi jawaban.

Dari semua pertanyaan yang muncul, dapat sekiranya saya simpulkan ke dalam 10 pertanyaan yang paling sering ditanyakan, diantaranya;

1. Dimanakah Kawitan Shri Arya Sentong?
2. Apakah benar keturunan Shri Arya Sentong tidak memiliki Pedarman di Pura Agung Besakih? Sedangkan ada Pedarman Arya Kenceng Sanak Sapta Arya yang mencantumkan nama Arya Sentong sebagai salah satu “SUB-DEVISI” dari tujuh Arya? Bagaimana sesungguhnya?
3. Jika Trah Shri Arya Sentong tangkil ke Pura Agung Besakih, dimana saja sebaiknya menghaturkan puja?
4. Apakah benar Shri Arya Sentong pernah menjabat sebagai Raja pada masa transisi pemerintahan Dalem Bedahulu dengan Dalem Shri Aji Krisna Kepakisan?
5. Apa hubungan Ki Gusti Ngurah Patjung dengan Shri Arya Sentong?
6. Bagaimana hubungan historis I Gusti Ngurah Patjung dengan I Gusti Ngurah Djelantik?
7. Bagaimana hubungan historis Shri Arya Sentong dengan Mahapatih Gajah Mada dan tiga wesya Tan Kober, Tan Kaur dan Tan Mundur?
8. Jika Trah Shri Arya Sentong melaksanakan upacara Pitra Yadnya, bagaimana bentuk kajang kawitan yang dipergunakan? Dimana bisa memperolehnya? 
9. Bentuk Bade dan Petulangan seperti apa yang seharusnya dipergunakan oleh Trah atau keturunan dari Shri Arya Sentong?
10. Di Parahyangan mana saja Beliau Shri Arya Sentong melakukan yasa kerthi dan jejak apa yang masih tertinggal untuk pratisentananya baik di Jawa maupun di Bali.

Kesepuluh pertanyaan diatas akan terjawab bila Anda membaca buku ini runut dari depan hingga akhir buku. Buku disusun dengan menggunakan data yang sahih baik dalam bentuk prasasti, babad atau peningalan sejarah yang telah terdaftar di museum purbakala. Semoga kehadiran buku ini menghadirkan secerca cahaya sebagai bekal perjalanan menuju ceruk-ceruk terdalam kesadaran diri sebagai Trah Ksatrya Dalem Amangku Bhumi.

Buku dicetak terbatas hanya 50 pcs, semua punia yang terkumpul dari semeton atas buku ini dipergunakan seluruhnya untuk mendanai Mahasabha ke II pada tanggal 17 Agustus 2019.

Karya dalam buku ini tidaklah final, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dan tentu akan sangat baik untuk dibukukan sehingga generasi muda mendapat "pegangan" dan pedoman yang sahih.

Rahayu